Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juni 2011

penangkapan pembunuh 1 keluarga




Tersangka Suwandi, diamankan dari rumahnya di Merbau, Labuhan Batu, Kamis pagi (23/6/2011). Selanjutnya dia dibawa untuk menjalani pemeriksaan ke Mapolres Labuhan Batu di Rantau Prapat, sekitar 290 kilometer dari Medan, ibukota Sumut.

Wakil Kepala Polres Labuhan Batu Komisaris Polisi (Kompol) Tetra Darmariawan menyatakan, penangkapan tersangka ini dilakukan menyusul keterangan beberapa saksi yang diperoleh polisi. Sejauh ini tersangka Suwandi juga mengakui perbuatannya.

"Dia mengaku melakukannya sendiri, pelaku tunggal," Tetra Darmariawan kepada wartawan.

Dalam keterangannya kepada polisi, tersangka mengatakan pembunuhan terhadap keluarga Supriadi (45) dilakukannya pada Rabu (22/6) subuh. Motif utamanya terkait kasus utang piutang. Tersangka yang kesal ditagih hutang, datang dan menginap di rumah korban di Desa Pulo Padang, Kecamatan Rantau Selatan.

Ketika semua terlelap, satu per satu korban dihabisi dengan cara dipukul kepalanya. Jenazah Supriadi dan Arif Pradana (9) dimasukkan ke dalam sumur, sedangkan Wagiyem (40) dan M Ridwan (16) tergeletak di dalam rumah. Jenazah para korban ditemukan warga pada Rabu (22/6) pagi.

Korban terakhir yang dihabisi adalah Juni Ananda Azhari (18), pelajar SMK Negeri 1 Rantau Utara. Dia sempat melarikan diri, namun dikejar tersangka hingga ke kawasan perkebunan kelapa sawit dan di sana dia dipukuli serta ditusuk dengan senjata tajam. Jenazahnya ditemukan pada Kamis (23/6) pagi.

Pembroke Satu Keluarga Dibekuk, Satu Korban Lagi Ditemukan


Pembroke Satu Keluarga Dibekuk, Satu Korban Lagi Ditemukan

Metro Siang / Nusantara / Kamis, 23 Juni 2011 12:08 WIB

Metrotvnews.com, Labuhan Batu: Seorang korban dari pembunuhan satu keluarga di Labuhan Batu, Sumatra Utara, ditemukan, Kamis (23/6). Korban yang sempat dinyatakan hilang, ditemukan tewas di wilayah perkebunan kelapa sawit, sekitar dua kilometer dari rumahnya.

Keberadaan gadis bernama Zuni Ananda Azhari sempat menjadi teka teki. Pascaperistiwa pembunuhan satu keluarganya di Labuhan Batu, Zuni sempat hilang.

Anak sulung yang dikenal pendiam dan cukup pintar di sekolah itu, bahkan sempat dicurigai sebagai pelaku. Pasalnya, sejumlah uang tunai dan perhiasan milik orang tuanya hilang.

Mayat pelajar kelas 11 SMK itu ditemukan dalam keadaan telungkup dan ditutupi semak-semak. Di tempat kejadian perkara, polisi menemukan sebilah keris dan batang kayu yang diduga dijadikan alat untuk pelaku memukul korban. Polisi, lalu kembali mengaitkan keterangan sejumlah tetangga korban yang menjadi saksi.

Korban ditemukan setelah polisi membawa tersangka Swandi ke lokasi penemuan korban. Lelaki yang dikenal sebagai paranormal di daerah itu diketahui sempat berkunjung ke rumah korban, pada malam kejadian. Namun, warga tidak mengetahui kepulangan Swandi. Warga pun tak mengetahui Swandi sering berkunjung ke rumah korban.

Massa yang geram, nyaris menghajar Swandi saat digelandang polisi ke lokasi penemuan korban. Beruntung, polisi sigap dan berhasil menyelamatkan Swandi dari amuk massa. Polisi lalu membawa tersangka ke Mapolres Labuhan Batu untuk dimintai keterangan. Sementara, mayat Zuni dibawa ke rumah sakit untuk diautopsi.

Sejauh ini pengakuan Swandi masih disangsikan. Kapolres Labuhan Batu Ajun Komisaris Polisi Hibra Wahyu mengaku masih mengumpulkan bukti-bukti dan data-data lengkap tentang pelaku pembunuhan satu keluarga itu.(****)

Rabu, 22 Juni 2011

Kasus Pembuhuhan Misterius di Labuan Batu

Kasus Pembuhuhan Misterius di Labuan Batu


GI-News — Seperti sebuah seri sinetron, satu keluarga yang terdiri dari 4 (empat) orang ditemukan tewas dalam posisi yang terpisah, di Labuhan Batu, Sumatra Utara.
Satu keluarga berjumlah empat orang ini ditemukan tewas di Labuhan Batu, Sumatera Utara (Sumut). Peristiwa pembunuhan dengan banyak korban dalam waktu yang bersamaan merupakan kasus yang sangat di luar kebiasaan. Pembuhuhan dengan korban yang lebih dari satu hanya bisa dilakukan oleh pelaku yang lebih dari satu, kecuali pembuhuhan dilakukan dengan racun atau semacamnya. Namun peristiwa semacam ini bisa saja kasus bunuh diri.
Antisipasi yang Lambat dan Terlambat
Seperti yang sudah diduga, kasus ini terkesan lambat ditangani. Komisaris Polisi (Kompol) Tetra Darmariawan menyatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait kasus ini. Sejauh ini mereka masih belum menetapkan tersangka. Namun secara sekilas tidak terlihat adanya tanda-tanda penganiayaan pada tubuh korban. Belum bisa dipastikan penyebab kematian korban. Padahal kasus ini sudah lebih dari 24 jam kejadiannya. Dari data sidak forensik seharusnya sudah segera dapat dipastikan apakah ini korban pembunuhan atau bunuh diri. Orang awampun mengetahui bahwa dari olah sidik jari dan DNA yang ditemukan di TKP, kurang dari 24 jam analisa kasus sedianya sudah bisa diperoleh.
Di Singapore, misalnya, security system yang bagus memungkinkan polisi mampu menemukan barang hilang, sebelum korban melapor kehilangan.
Runtutan Peristiwa
Kasus tewasnya satu keluarga ini diketahui pada Rabu pagi sekitar pukul 10.00 WIB, ketika salah seorang kerabat korban datang ke rumah tersebut. Setelah memanggil beberapa kali dan tidak ada sahutan, hal itu menimbulkan kecurigaan. Para tetangga yang datang kemudian mendobrak pintu dan menemukan para korban sudah tewas.
Kasus pembunuhan itu terjadi di Desa Pulo Padang, Kecamatan Rantau Selatan, Kabupaten Labuhan Batu, sekitar 290 kilometer dari Medan, ibukota Sumut. Para korban yang ditemukan tewas masing-masing Supriadi (45) dan istrinya Wagiyem (40), kemudian kedua anaknya M Ridwan (16) dan Arif Pradana (9) siswa kelas II SD.
“Jenazah semua korban saat ini dibawa ke rumah sakit di Pematang Siantar, nanti setelah hasil forensik dan olah perkara di tempat kejadian perkara, baru kita bisa mengarah pada tersangka,” kata Tetra Darmariawan kepada wartawan Rabu (22/6/2011) malam.
Para korban yang tewas tersebut ditemukan terpisah di beberapa bagian rumah. Supriadi dan Arif Pradana ditemukan di dalam sumur, sedangkan dua korban lagi Wagiyem dan M Ridwan ditemukan di dapur. Keluarga korban ini sebenarnya memiliki lagi seorang anak, Juni Ananda Azhari (18). Pelajar SMK Negeri 1 Rantau Utara kelas II jurusan Tekhnik Komputer Jaringan ini juga tinggal di rumah tersebut, namun hingga kini masih belum ditemukan. Polisi masih mencari yang bersangkutan.
Dampak dari Lemahnya Sistem Komunikasi Sosial
Banyak kasus semacam ini terjadi sebagai akibat sistem hubungan antar keluarga, maupun hubungan kekerabatan dalam masyarakat bersangkutan yang rapuh. Hal tersebut diperkeruh oleh security-system di daerah yang kurang sistematis. Babinsa yang biasanya bekerja sendiri (tanpa anak buah), harus beroperasi siang malam melayani ratusan keluarga. Dengan kondisi ini, sangat tidak mungkin mereka mampu mengantisipasi keadaan, belum lagi bila oknum tersebut lebih memilih pada “masyarakat yang basah” katimbang wilayah yang “kering”.
Hubungan sosial yang bersifat sistemik sebenarnya bisa diciptakan, dengan menggunakan beberapa teknologi komunikasi sederhana. Sumber: RadarNews

Satu Keluarga Tewas Misterius

Satu Keluarga Tewas Misterius PDF Print
Image

Warga Kecamatan Pulau Padang, Rantau Utara, berkerumun di depan rumah korban yang telah dipasang garis pembatas polisi kemarin.

RANTAUPRAPAT– Seorang pengusaha getah ditemukan tewas bersama istri dan dua anaknya di rumahnya di Kelurahan Pulau Padang, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu kemarin. Kematian satu keluarga ini masih misterius karena seorang anak korban menghilang sejak kemarin. Jenazah Supri alias Benjol, 45,ditemukan di dalam sumur bersama putranya Arif Prada, 9. Sedangkan istrinya, Wagiem, 40, ditemukan terkapardidapurdanputranya MRidwan, 15, terbujur kaku di ruang tamu.

Putra korban yang belum diketahui keberadaannya bernama Juni Ananda Azhari,18. Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Labuhanbatu Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Hirbak Wahyu mengatakan, mereka belum bisa memastikan penyebab kematian keluarga pengusaha getah itu. “Sabar ya, kami masih melakukan penyelidikan, baru olah TKP (tempat kejadian perkara) tadi siang (kemarin),”katanya.

Wakil Kepala Polres (Wakapolres) Labuhanbatu Komisaris Polisi (Kompol) Terta Bayu Darmariawan mengatakan, tidak ada bekas penganiayaan di tubuh para korban.Tetapi, mereka belum dapat menyimpulkan penyebab kematian korban karena masih harus menunggu hasil autopsi. “Di TKP pun tidak ada kelihatan benda-benda yang dijadikan sebagai alat untuk menganiaya korban. Kita tunggulah hasil autopsi,”katanya. Kematian satu keluarga ini pun menggegerkan warga setempat.

Warga pun berduyunduyun mengerubungi kediamankorban. Berdasarketerangan diperoleh,penemuan keempat mayat korban itu berawal dari kecurigaan seorang penderes getah yang hampir saban hari mendatangi kediaman Supri. Si penderes yang juga rekan korban menaruh curiga karena pintu rumah Supri masih terkuncidaridalam, padahalsudah pukul 10.00 WIB. Alhasil, penderes ini bersama sejumlah tetangga mendobrak pintu. Saat itulah mereka menemukan satu persatu jenazah korban.

Jenazah Wagiem ditemukan di dapur dengan posisi tergeletak di samping tiang penyangga yang berjarak dua meter dari sumur. Jenazah M Ridwan ditemukan terbaring di samping tempat tidur di ruang tamu yang berukuran sekitar 10 meter x7 meter. Di sebuah kamar yang terkunci dari dalam dan bersebelahan dengan jenazah M Ridwan, warga menemukan dua tumpukan menyerupai sesajen ditutupi kain merah dan dibungkus kain putih. Selain itu, dua gelas berisi air mirip susu dan dua gelas lainnya tertumpah di talam berwarna hitam.

Di atas salah satu meja di dapur yang berjarak sekitar dua meter dari jenazah Wagiem terdapat satu panci bubur warna putih (bubur sum-sum) yang sudah mengental. Di sebelahnya terlihat bubur di dalam piring putih bercampur dengan wijen. Sedangkan jenazah Supri dan Arif Prada ditemukan warga di sumur.Semula hanya jenazah Supri yang ditemukan dalam kondisi leher terikat tali timba sehingga seolah-olah bunuh diri.Namun, lidah korban tidak menjulur keluar.

Tak lama kemudian dari dalam sumur itu muncul jenazah putra bungsu korban.Terkesan bahwa keduanya dicemplungkan ke dalam sumur. Hingga kemarin sore, motif kematian keempat korban masih simpang siur karena putra sulung korban Juni Ananada Azhari belum diketahui keberadaannya. Diyakini dialah saksi kunci atas kematian orangorang yang dicintainya. Soal keberadaan benda yang diduga sesajen, salah seorang kemenakan istri korban bernama Rita, 30, mengaku sempat bertemu dengan seorang dukun yang sering datang ke rumah korban.

Sayangnya dukun tersebut belum diketahui dimana alamatnya. “Tadi setelah kami lihat isi hand phone korban ada juga SMS (pesan singkat) dari dukun itu, pesannya tertulis, “eneng”,” kata Rita kepada wartawan. Sementara itu,Kasiman,63, abang Wagiem mengaku kaget bukan kepalang mengetahui peristiwa ini.Menurut dia, selama ini tidak pernah terjadi pertengkaran dalam rumah tangga adiknya. “Sehari sebelum kejadian ini, setahu saya mereka baik-baik saja dan tidak ada musuh mereka,” ungkapnya.

Informasi lain, salah seorang tetangga korban yang tidak bersedia menyebutkan namanya mengungkap kan,curiga peristiwa ini dipicu persoalan harta warisan. Sebab, beberapa tahun belakangan ini, setelah orang tua istri korban meninggal, hampir seluruh warisan dan termasuk perkebunan karet seluas 5 hektare dikelola keluarga Supri hingga akhirnya menjadi pengusaha getah.“Saya curiganya ke situ karena anak laki-laki dari mertuanya tidak ada,”ungkap pria yang mengaku pernah membeli getah korban.

Psikolog Lodi Ana Ayu mengatakan, kejadian ini harus dianalisa secara menyeluruh. Baik hubungan keluarga, tetangga dan lainnya. Dari situ bisa ditelusuri motif sebenarnya kejadian ini.Bila kejadian ini dikaitkan dengan pembagian warisan seperti yang disampaikan tetangga, tentunya ada tanda-tanda penganiyaan. Biasanya perselisihan masalah tersebut dipicu dengan tindak kekerasan.

“Kalau masalah warisan pasti ada penganiyaan, tidak seperti ini.Sebab,kejadian itu didukung faktor keluarga iri dan dengki memicu penganiyaan. Kalau tidak ada berarti bukan warisan,”katanya. Tewasnya satu keluarga ini pasti dipicu salah satu persoalan. Tidak mungkin meninggal begitu saja tanpa sebab. Bisa saja penyebabnya diracuni atau lainnya. Kalau masalah klenik sepertinya jauh dari akal sehat, meskipun hal itu ada.“Dikaitkan ke klenik bisa saja, tapi jauhlah.

Saya juga tidak yakin dikarenakan itu. Di luar kepercayaan kitalah.Ada faktor lain yang menyebabkan itu, bisa saja diracun karena meminum apa, makan apa. Untuk membuktikannya itu seperti yang saya katakan tadi, harus dianalisa secara bagus. Dengan penelusuran semua sisi bisa membuka apa motif sebenarnya,” tandasnya. sartana nasution, reza shahab

Sekeluarga Tewas Misterius, Anak Sulung ‘Menghilang

Sekeluarga Tewas Misterius, Anak Sulung ‘Menghilang’



Warga Kelurahan Pulo Padang, kecamatan Rantau Utara, Labuhanbatu dihebohkan dengan penemuan mayat sekeluarga. Supriadi als benjol bersama istri Wagiyem dan kedua anaknya ditemukan tewas mengenaskan dalam rumahnya, Rabu (22/6) sekira pukul 10.00 wib oleh Kasno warga setempat.
Semula, Kasno yang keseharian bekerja dengan korban sekitar ingin membayar cicilan uang jula-jula kepada korban Wagiyem. Namun berulang kali mengetuk pintu rumah korban tidak mendapat sahutan. Merasa curiga Kasno memanggil dan mengabari para tetangga korban.
Tetangga yang dihubungi juga tak berhasil ketika mengetuk dan menggedor rumah itu. Menaruh curiga mereka selanjutnya mendobrak pintu depan rumah korban yang tidak jauh dari kantor kelurahan setempat, para warga langsung menelusuri kedalam rumah itu, dikejutkan dengan penemuan korban Wagiyem yang terkapar di lantai dapur rumah itu dengan kondisi mengenaskan tanpa nyawa.
Disekitar wagiem juga ditemukan sejumlah pakaian yang berserakan. Yang lebih mengherankan, didalam sebuah kamar yang terkunci dari dalam dan bersebelahan dengan korban M Ridwan terdapat dua tumpukan menyerupai sesajian ditutupi kain merah dan dibungkus kain putih.
Selain itu, dua gelas masih berisi air menyerupai susu dan dua gelas lainnya tertumpah diatas talam berwarna hitam serta diatas salahsatu meja dapur berjarak sekira dua meter dari Wagiyem terlihat satu panci bubur putih/sum-sum yang mengental dan disebelahnya terlihat bubur didalam piring putih bercampur dengan biji kacang/bijen.
13087569821935243139
1308758507170852001
wagiyem
Melihat kondisi Wagiyem itu kemudian warga juga menemukan suami korban Supriadi alias Benjol juga dengan kondisi serupa. Tewas mengenaskan di dalam sumur dengan posisi leher terjerat tali timba. Tak hanya itu, kembali, Warga juga menemukan anak kedua korban bernama M Ridwan (15) juga tergelatak tanpa nyawa disamping tempat tidur yang ada diruang tamu di rumah berukuran sekitar 10X7 meter tersebut .
Warga akhirnrya heboh atas penemuan tersebut dan melaporkan penemuan mayat keempat korban sekeluarga, ke pihak kepolisan Resort Labuhanbatu. Menerima laporan, petugas langsung ke TKP. Polisi yang tiba di lokasi langusng melakukan indentififkasi di rumah korban.
Setelah mayat korban Supriadi diangkat dari sumur kemudian Polisi juga menemukan mayat anak bungsu keluarga ini bernama Arif Pradana (8) siswa kelas IIa SD Negeri Nomor 115529 Suka Ramai, Kecamatan Bilah Barat itu, juga tewas tertindih tubuh ayahnya di dalam sumur. Sedangkan anak sulung keluarga ini bernama Juni Ananda Azhari (18) pelajar SMK Negeri 1 Rantau Utara kelas II jurusan Tekhnik Komputer Jaringan, hingga kini menghilang tanpa jejak.
Pantauan dilokasi ditemukan sejumlah peralatan sesaji, bubur, dan empat gelas cairan berwarna putih mirip susu, serta alat perlengkapan spiritual lainya. Anehnya dalam kejadian ini sejumlah barang milik korban masih kelihatan utuh. “Rumahnya di dobrak, terus ditemukan suaminya, istrinya dan anaknya sudah tewas mengenaskan, tapi kayaknya semua barang – barangnya utuh dan terlihat belum ada yang hilang hanya saja anak sulung mereka belum diketahui keberadaanya ” ujar Darma warga sekitar. Dijelaskan Darma selama ini korban diketahui ramah dan tidak pernah terlibat pertengkaran dengan warga sekitar.
Sementara Saginem (45) kakak sepupu korban mengatakan selama ini adik sepupunya beserta keluarga itu tidak memiliki musuh dikampung tersebut bahkan, kata Saginem kemarin sehabis menjual getah karet Korban Supriadi masih sempat membayar jakat penjualan getahnya kepada warga sekitar yang kurang mampu. “Semalam aja masih jumpa ku dan dia masih sempat membayar zakat kepada warga sekitar,” ungkap Saginem sambil terisak.
Idrus kepala kelurahan setempat membenarkan kejadian penemuan mayat sekeluarga itu. Dan dia juga ketika dihubungi via selular mengakui keempat korban meninggal dalam kondisi mengenaskan. Tapi, kata dia, sampai saat itu belum diketahui motif penyebab tewasnya ke empat korba itu. “Tidak belum diketahui penyebab kematian ke empatnya,” ucap Idrus.
Sebab, ditambahkannya, tidak ada indikasi pencurian dan tindak kejahatan perampokan yang terjadi. Karena, beberapa barang berharga milik sekeluarga korban itu masih dalam kondisi utuh. “Ya, sepedamotor dan lainnya juga masih ada di dalam rumah para korban,” bebernya.
Memang, kata dia sesuai informasi yang diperolehnya, korban yang juga keseharian sebagai pedagang getah/karet itu sehari sebelum kejadian menjual getah hasil penampungan getah yang dibelinya dari para warga sekitar. “Sehari sebelumnya korban menjual getah yang dibelinya dari para warga dan uang hasl penjualan itu sepertinya yang belum diketahui keberadaannya,” tambah Idrus.
Amatan lainnya bersama dengan sejumlah personil Polres Labuhanbatu kala itu, tidak ditemukan adanya kerusakan pintu maupun jendela, karena semua masih tertutup dengan baik. Kandang ternak yang bersebelahan dengan dapurpun masih terlihat terkunci rapi dan ternak ayam serta bebek masih berkeliaran disekitar kandang.
Beberapa saat kemudian, ke empat korban yang tewas dievakuasi ke instalasi kamar jenazah RSU Daerah Rantauprapat. Dari data visum etrepertum (VER) dokter Dewi Sartika di UGD diketahui, Supriadi alias benjol mengalami luka robek di bagian kepala belakang pada leher, keluar cairan dari hidung, jejas pada leher 20 centimeter, sedangkan M Ridwan hemapaton pada gigi dan mata atas kanan, luka pada tumit kaki kiri, selanjutnya Wagiyem keluar cairan dari hidung dan mulut, jejas pada leher, kebiruan dan dilatosi pada mata, sementara anak bungsunya mengalami jejas pada leher. Rekomendasi VER agar dilakukan otops ke empat jenazah itu.
<a href="http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a80dd573&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE" target="_blank"><img src="http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=1033&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a80dd573" border="0" alt="" /></a>
Kapolres Labuhanbatu AKBP Hirbak Wahyu Setiawan melalui Wakapolres Kompol Tetra Darmariawan mengatakan kasus itu masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. “Masih didalami motifnya. Masih lidik. Anggota sedang di lapangan. Karena masih di autopsi bang,” demikian pesan singkat Tetra.

Dikunjungi Dukun

13087560261677078362
Tewas Misterius- Warga Kelurahan Pulo Padang, kecamatan Rantau Utara, Labuhanbatu dihebohkan dengan penemuan mayat sekeluarga. Supriadi als benjol bersama istri Wagiyem dan kedua anaknya ditemukan tewas mengenaskan dalam rumahnya, Rabu (22/6) sekira pukul 10.00 wib
Sumber yang diperoleh dari sejumlah warga dan kerabat korban, Selasa (21/6) sekitar pukul 19.00 WIB korban tewas sekeluarga tersebut dikunjungi seorang paranormal yang sering dipanggil Mas Adi warga Marbau, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura). “Memang ada datang seseorang ke rumah korban. Kabarnya dukun. Tak biasanya seperti itu. Tapi kapan pulangnya tidak tahu,” terang Idrus Kepala Kelurahan setempat.
Selain itu, Rita, seorang kemanakan Wagiyem saat dimintai keterangannya oleh polisi didalam rumah korban. Malam sebelum kejadian, dirinya masih berkunjung kerumah Supriadi dan beranjak pulang sekitar pukul 22.40 WIB dan tidak terlihat tanda-tanda yang mencurigakan di rumah itu. Namun paginya hampir pukul 10.00 WIB, rumah tersebut didobrak bersama warga lainnya dikarenakan kebiasaan itu tidak seperti biasanya.
Informasi di lingkungan sekolah SD Negeri Arif Pradana menerangkan, sejak Sabtu kemarin usai ujian sekolah, Arif tidak lagi masuk ke sekolah. “Memang tidak ada masuk sekolah sejak ujian lalu. Kalau dia (Arif Pradana) anak yang baik, pintar dan pendiam. Tanda-tanda lain tidak ada kejanggalan kami lihat,” ucap ke semua guru disana.
Sama halnya dengan Arif Pradana, Juni Ananda Azhari pelajar SMK Negeri 1 Rantau Utara dijelaskan wali kelasnya Okto Sinaga dan temannya mengatakan, sosok Anada anak yang memiliki sifat pendiam dan rajin belajar. “Dia juara kelas. Dan ranking dua di sekolah. Bahkan dia semalam masih ke rumah saya,” ucap Okto.
Selaku anggota OSIS, Ananda bertutur kata ramah dan sopan santun. Pada Sabtu kemarin, Ananda sempat mengatakan kepada temannya bahwa dirinya tidak akan masuk sekolah lagi pasca ujian. Mereka juga mengakui tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan terhadap Ananda yang hilang hingga kini. “Memang dia bilang sama kami tidak masuk lagi dan sejak Senin sudah tidak kelihatan. Dia itu baik disekolah, rajin dan baik, sopan lagi. Kami sedih kali dengar tadi dan kami merasa berduka,” terang teman-teman Juni Ananda Azhari yang berada disekeliling rumah korban.
Ditambah rekan lainnya, siang saat diketahuinya sekeluarga itu tewas, salah seorang sanak saudara korban masih dapat menghubungi Juni Ananda melalui ponsel, namun tidak diangkat, dicoba berulangkali, nomor pribadi milik Juni Ananda akhirnya tidak aktif.
Sengketa Tanah Warisan

Informasi yang dihimpun dari lokasi kejadian, keluarga korban juga dikabarkan pernah memiliki sengketa tanah warisan yang sudah lama berlangsung. Itu diduga, sekaitan dengan pembagian tanah milik keluarga orangtua Wagiyem. “Iya, memang ada persoalan sengketa tanah warisan diantara mereka,” ujar Idrus Lurah setempat.
Katanya, sengketa itu dengan keluarga abang tiri korban Wagiyem bernama alm Sangkot. Tapi, Idrus tak mengetahui secara detail tentang kasus itu. Karena dia tidak terlalu mengikuti perkembangannya. “Sepengetahuanku, kasus itu sudah berlanjut ke Pengadilan Tinggi dan bahkan ke MA. Tapi saya tidak mengetahui secara rinci,” tukasnya.
Hasil penelusuran wartawan, diperoleh informasi dari Pengadilan Negeri Rantauprapat data kasus sengketa tanah yang mengatasnamakan Penggugat Suraji melakukan gugatan terhadap tanah seluas 4 rante ke tergugat Wagiyem dan tergugat II Arianto alias Edi.
Di PN Rantauprapat, kasus yang teregistrasi itu sejak 1 oktober 2007 Majelis hakim disana memperkuat posisi Wagiyem sebagai pemilik syah atas tanah warisan itu.
Informasi lainnya, tanah yang berbatas sebelah utara dan Selatan dengan Suraji masing-masing seluas 80 meter, berbatas sebelah Timur berbatas dengan jalan dan barat berbatas dengan Ahmad Hasibuan seluas 44 meter.
Kronologi kasus itu sendiri terkait penguasaan lahan yang dilakukan Wagiyem sejak 1983 lalu yang diberikan oleh orangtua Wagiyem. Dikabarkan, sejak 20 April 2000 lalu Wagiyem memiliki surat waris yang syah terhadap tanah itu, dan PN Rantauprapat juga memperkuatnya. Penggugat juga melakukan banding ke PT di Medan dengan registrasi kasus bernomor 141pdt/2008/PT Mdn. Tapi, kembali PT menjatuh vonis dengan memperkuat keputusan PN Rantauprapat, bahwa tanah itu syah milik Wagiyem.